Di relung hati yang paling dalam, ada kerinduan yang tak terucapkan, sebuah jeritan hening yang hanya bisa didengar oleh angin. Ayah, andai saja jarak ini tidak terbentang begitu jauh, mungkin aku sudah berlari memelukmu, merasakan hangatnya dekapmu yang selalu menjadi pelipur lara. Setiap malam, saat bintang-bintang berkelip di langit, aku membayangkan dirimu di sana, di tempat yang nun jauh. Aku merindukan tawa renyahmu, nasihat-nasihat bijakmu, bahkan sekadar keberadaanmu di sisi. Rasanya begitu berat menahan keinginan ini, menahan air mata yang ingin jatuh setiap kali teringat akanmu.
Aku tahu engkau juga pasti merasakan hal yang sama, Ayah. Setiap telepon atau video call hanya bisa sedikit mengobati dahaga rindu ini, namun tak pernah cukup. Ada bagian dari diriku yang selalu merasa hampa tanpamu, seperti puzzle yang kehilangan satu keping pentingnya. Aku hanya bisa berharap, suatu hari nanti, jarak ini tidak akan lagi menjadi penghalang. Aku ingin merasakan kembali sentuhan tanganmu, berbagi cerita tentang hariku, dan menatap langsung mata penuh kasihmu. Sampai saat itu tiba, doaku akan selalu menyertaimu, Ayah, dan kerinduan ini akan menjadi jembatan yang menghubungkan hati kita.